Senin, 27 Mei 2024

ANALISIS LAGU HATI-HATI DIJALAN KARYA TULUS

 

ANALISIS LAGU HATI-HATI DIJALAN KARYA TULUS

Latar Belakang

Analisis selalu beriringan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kita menemui sesuatu yang baru, keingintahuan untuk menggali informasi tentangnya muncul, baik dengan menelaah maupun mengumpulkan informasi secara mendalam. Secara umum, analisis adalah aktivitas yang melibatkan sejumlah kegiatan seperti mengurai, memilah, dan membedakan sesuatu untuk dikelompokkan atau digolongkan berdasarkan ukuran tertentu, lalu mencari hubungannya serta menafsirkan maknanya. Tujuan analisis adalah untuk memecah suatu komponen menjadi bagian-bagian kecil dan memahami hubungan antar komponen tersebut.

Musik merupakan suatu hal yang sangat terpenting dari kehidupan manusia. Laki-laki, perempuan, dari anak kecil hingga orang tua. Lagu selalu digemari dan dingerkan oleh manusia. Setiap lagu memiliki sebuah cerita dan pesan tersendiri yang unik, seperti halnya lagu akan terus mempengarui perasaan, pikiran, bahkan perilaku sang pendengarnya. Banyak manusia yang tak bisa hidup tanpa musik. Musik sudah menjadi salah satu sumber hiburan yang paling mudah didapatkan.

Kegiatan seperti berolahraga, bekerja, dan belajar rasanya kurang lengkap kalau tidak ditemani alunan lagu kesukaan. Anda sendiri mungkin saja pernah belajar sambil mendengarkan musik.

 

Musik juga membantu Anda melampiaskan perasaan. Saat melalui masa-masa sulit, Anda cenderung lebih sering memainkan lagu sedih. Sementara bila sedang senang hati, maka lagu-lagu bernada ceria yang menjadi pilihan. Tapi terkadang, musik pun bisa memberikan ketenangan tersendiri.

 

Objek penelitian dalam hal ini adalah lirik lagu "Hati – Hati Di Jalan" oleh Tulus dari album Manusia

Berikut Lirik lagu Hati-Hati Di Jalan :

Perjalanan membawamu

Bertemu denganku

Ku bertemu kamu

Sepertimu yang kucari

Konon aku juga seperti yang kau cari

Kukira kita asam dan garam

Dan kita bertemu di belanga

Kisah yang ternyata tak seindah itu

Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira inikan mudah

Kau aku jadi kita

Kasih sayangmu membekas

Redam kini sudah pijar istimewa

Entah apa maksud dunia

Tentang ujung cerita

Kita tak bersama

Semoga rindu ini menghilang

Konon katanya waktu sembuhkan

Akan adakah lagi yang sepertimu

Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira inikan mudah

Kau aku jadi kita

Kau melanjutkan perjalananmu

Ku melanjutkan perjalananku

Uh uh uh

Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira inikan mudah

Kau aku jadi kita

Kukira kita akan bersama

Hati-hati di jalan

Analisis Visual

Sebagai mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual) kita pasti sangat familiar dengan design, oleh karena itu disini kita akan membedah design cover dari Album Manusia ciptaan Tulus.

Album "Manusia" oleh Tulus menampilkan sampul yang memperlihatkan Tulus dan background putih, menciptakan atmosfer yang damai dan alami. Dominasi warna biru dan nuansa alam dalam desain sampul ini menyoroti tema keterhubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Penempatan Tulus di tengah-tengah menggambarkan hubungan yang erat antara manusia dan alam, menciptakan kesan harmoni dan kedamaian. Komposisi yang minimalis dengan fokus pada Tulus menekankan esensi dan keaslian dalam pendekatan musiknya, mengundang pendengar untuk merenung dan memahami kehidupan secara lebih mendalam.

 

Pose Tulus yang tenang dan santai dalam sampul album menegaskan suasana kesederhanaan dan ketenangan, mencerminkan pendekatan musiknya yang mendalam namun sederhana dalam penulisan lirik dan aransemen. Desain sampul yang minimalis menunjukkan bahwa album ini menekankan esensi dari pesan yang ingin disampaikan, tanpa adanya hiasan yang berlebihan. Dengan menggunakan elemen visual seperti tanaman hijau, sampul album ini mungkin berusaha menggambarkan tema-tema kehidupan, keterhubungan dengan alam, kedamaian, dan refleksi diri yang terdapat dalam lagu-lagu di dalam album "Manusia". Sebagai keseluruhan, analisis visual dari sampul album ini memberikan gambaran yang menyatu antara kehidupan manusia dan alam, mengundang pendengar untuk merenungkan arti dan makna kehidupan secara lebih dalam.

 

Analisis Lirik

Makna Lagu “Hati-hati Di Jalan”

Dari sepuluh lagu di Album Manusia, “Hati-hati Di Jalan” adalah salah satu yang populer. Sihir kata-kata yang dimainkan Tulus sangat mendalam dan elegan. Walaupun Tulus sering melantunkan diksi yang asing tetapi unik dan untuk sebagian orang awam sangat nyaman ketika sudah masuk ketelinga menjadikan ciri khas dalam album ini. Seperti contoh salah satu lirik dalam Hati-Hati Di Jalan.

“Kukira kita asam dan garam. Dan kita bertemu di belanga”

Walau terkesan sederhana namun sebenarnya jika diteliti mempunyai makna yang dalam. Kata Asam dan Garam jika di tinjau dari segi literal adalah sebuah bumbu dapur yang berasal dari dua tempat yang sangat berbeda. Asam berasal dari salah satu dari keluarga pohon cemara besar berasal dari Afrika atau sering di sebut Asam Jawa (Tamarindus Indica). Tumbuh baik di ketinggian 1500 mdpl sedangkan garam berasal dari laut. Sedangkan jika di tinjau dari segi kiasan menurut KBBI makna Asam Garam adalah pengalaman hidup, lika-liku hidup atau suka duka dalam kehidupan. Bisa di simpulkan dalam lagu “Hati-hati Di jalan” yang mengkisahkan dua insan dengan latar belakang yang berbeda namun dengan satu tujuan. Namun faktanya, punya tujuan yang sama saja tidak cukup untuk dua insan bertahan.

“Perjalanan membawamu bertemu denganku, ku bertemu kamu”

(Pada lirik ini mereka menyatakan bahwa awal pertemuan mereka sebagai sepa dipertemukan karena takdir, mereka saling mengungkapkan bahwa masing masing dari mereka adalah sosok yang selama ini dicari-cari.sang kekasih.)

 

“Ku kira kita asam dan garam, dan kita bertemu di belanga”

(mereka yang mengira bahwa mereka adalah Asam dangaram yang merupakan dua unsur berbeda, asam yang berada di gunung, sedangkan garam berada di laut. namun asam dan garam bisa menjadi satu di dalam suatuhidangan.)

 

“kasih sayangmu membekas, redam kini sudah pijar istimewa”

(kasih sayang serta cinta yang diberi mantan kekasihnya masih bisa dia rasakan dan masih ada di dalam hatinya meski harapan yang mereka miliki untuk bertahan dan melakukan petualangan bersama hingga akhir telah pupus. dan mereka hanyabisa mengalah pada takdir yang sudah digariskan, bahwa mereka bukanlah jodoh.)

 

“Entah apa maksud dunia tentang ujung cerita kita tak bersama”

(Penulis menanyakan tentang kisah percintaannya yang dirasa sudah sempurnakarena saling mencintai, saling mengerti, saling menyempurnakan.)

 

Analisis Semiotika

Tulus yang menjadi album cover Hal tersebut bermakna bahwa albumnya “Manusia” menceritakan perjalanan dirinya dari ia merintis hingga menjadi seperti sekarang.

“Kukira kita asam dan garam. Dan kita bertemu di belanga” Asam berasal dari salah satu dari keluarga pohon cemara besar berasal dari Afrika atau sering di sebut Asam Jawa (Tamarindus Indica). Tumbuh baik di ketinggian 1500 mdpl sedangkan garam berasal dari laut. Sedangkan jika di tinjau dari segi kiasan menurut KBBI makna Asam Garam adalah pengalaman hidup, lika-liku hidup atau suka duka dalam kehidupan.

“Perjalanan membawamu bertemu denganku, ku bertemu kamu” Pada lirik ini mereka menyatakan bahwa awal pertemuan mereka sebagai sepa dipertemukan karena takdir, mereka saling mengungkapkan bahwa masing masing dari mereka adalah sosok yang selama ini dicari-cari.sang kekasih.

 

Kesimpulan

Hasil dari proses analisis yang penulis menghasilkan kesimpulan bahwa, Lagu "Hati-Hati di Jalan" dalam album "Manusia" oleh Tulus menawarkan pesan yang merangkai setiap langkah kehidupan dengan kehati-hatian dan kesadaran. Dalam melodi yang merayu dan lirik-lirik yang melayang, Tulus merangkul pendengar untuk mengikuti alur perjalanan, mengarahkan mereka untuk menggenggam setiap detik dalam kehidupan. Lagu ini seperti cermin yang merefleksikan perjalanan jiwa, menuntun kita pada jalan yang membutuhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dalam setiap langkah. Melalui harmoni yang merangkai kata-kata puitis, Tulus menciptakan ruang bagi pendengar untuk menyingkap makna sejati tentang keberadaan manusia dalam liku-liku waktu. Dengan demikian, "Hati-Hati di Jalan" adalah seruan bagi kita untuk menjelajahi jalan hidup dengan penuh perhatian, memahami bahwa setiap langkah memiliki bobotnya sendiri dalam perjalanan manusia.

Menyelami Ilmu Fotografi

Menyelami Ilmu Fotografi 

Abstrak

Perkembangan teknologi kamera yang pesat telah membuka pintu bagi masyarakat untuk menjadikan fotografi sebagai hobi yang mudah diakses, terutama dalam era digital ini. Namun, untuk mencapai kesuksesan dalam menghasilkan karya yang berkualitas, pemahaman mendalam tentang dasar-dasar teknik eksposure dalam fotografi menjadi kunci utama. Ini menjadi fondasi bagi fotografer, baik yang sudah profesional maupun yang masih pemula, untuk menggali dan mengaplikasikan beragam teknik guna menciptakan karya yang tidak hanya beragam, tetapi juga kreatif.

Fotografi, sebagai perpaduan antara teknologi dan seni, memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dari dokumentasi keluarga hingga penggunaannya dalam jurnalisme, fotografi menembus beragam dimensi kultural dan memainkan peran penting dalam industri iklan cetak. Pengetahuan dan keterampilan fotografi diakui sebagai bagian integral dari pendidikan di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV), yang berperan dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten di lapangan kerja.

Seiring dengan masuknya era digital, budaya kerja dalam industri fotografi telah mengalami perubahan signifikan. Dari ketergantungan pada keterampilan manual, industri ini beralih ke proses yang serba terkomputerisasi. Meskipun teknologi terus berkembang dan paradigma berubah, nilai dan makna dalam karya fotografi tetap penting dalam desain komunikasi visual. Oleh karena itu, manajemen yang baik terhadap pelajaran fotografi di DKV menjadi krusial, karena hal ini akan memastikan kontribusi optimal dari lulusan di lapangan kerja, sesuai dengan kebutuhan industri dan level profesi yang diharapkan.

Perkembangan Fotografi Dari Konvesional Ke Era Digital

Dikutip dari sebuah jurnal milik Prayanto Widyo Harsanto yang berjudul FOTOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (DKV) 

Minggu, 26 Mei 2024

Merumuskan Metodologi Lukisan “American Gothic” 1930 Karya Grant Wood

 

Merumuskan Metodologi Lukisan “American Gothic” 1930 Karya Grant Wood



Lukisan “American Gothic” 1930

 

Pendahuluan

Seni lukis telah menjadi salah satu bentuk ekspresi manusia sejak zaman purba. Seiring perkembangan peradaban, seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau estetika semata, tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan sosial, politik, dan budaya. Dalam konteks ini, kajian sosiologi menjadi relevan untuk memahami bagaimana karya seni lukis merefleksikan dan mempengaruhi masyarakat di sekitarnya. Dalam tinjauan sosiologi ini, kita akan memfokuskan perhatian pada dua karya seni lukis terkenal, yaitu "American Gothic" karya Grant Wood dan "Guernica" karya Pablo Picasso. Kedua karya ini memiliki makna mendalam dan menyentuh isu-isu sosial yang menjadi sorotan pada masanya.

 

"American Gothic" adalah sebuah lukisan ikonik yang diciptakan oleh seniman Amerika Grant Wood pada tahun 1930. Lukisan ini menggambarkan seorang petani laki-laki dan perempuan yang berdiri di depan sebuah rumah pedesaan dengan latar belakang lahan pertanian. Karya ini telah menjadi simbol kehidupan pedesaan Amerika Serikat pada masa Depresi Besar dan sering diinterpretasikan sebagai representasi kesederhanaan, kesetiaan, dan kegigihan masyarakat petani. Di sisi lain, "Guernica" adalah karya seni yang dibuat oleh seniman Spanyol Pablo Picasso pada tahun 1937. Lukisan ini menggambarkan kekejaman perang sipil Spanyol yang terjadi di kota Guernica saat itu. Dengan gaya kubis dan pilihan warna monokromatik, Picasso berhasil menyampaikan ketidakadilan dan penderitaan korban perang. "Guernica" menjadi kritik terhadap kebrutalan perang dan penindasan yang dialami oleh rakyat sipil.

 

Melalui pendekatan sosiologi, kita dapat menganalisis bagaimana kedua karya seni ini merefleksikan dinamika sosial pada masa-masa ketika mereka diciptakan. Karya seni dapat menjadi cerminan masyarakatnya, menggambarkan nilai-nilai, konflik, dan ketegangan yang ada dalam suatu konteks sejarah. Selain itu, karya seni juga dapat mempengaruhi opini publik, mengubah persepsi, dan memicu perubahan sosial. Dalam tinjauan ini, kita akan mengeksplorasi pengaruh "American Gothic" dan "Guernica" terhadap masyarakat pada masa mereka diciptakan, serta dampaknya dalam jangka panjang. Dengan memahami bagaimana seni lukis dapat berinteraksi dengan masyarakat secara sosiologis, kita dapat lebih memahami peran penting seni dalam membentuk dan merefleksikan dunia di sekitar kita.

 

Teoritik Metodologi Penelitian

Penelitian terhadap lukisan "American Gothic" karya Grant Wood dapat dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan teori-teori seni, sejarah, dan sosiologi. Metodologi yang digunakan bisa mencakup analisis ikonografi, semiotik, dan kontekstual. Analisis ikonografi akan fokus pada identifikasi dan interpretasi elemen-elemen visual dalam lukisan, seperti pakaian, ekspresi wajah, dan latar belakang arsitektur rumah bergaya Gothic. Dengan memahami simbol-simbol ini, peneliti dapat menggali makna yang ingin disampaikan oleh Wood, terutama dalam konteks kehidupan pedesaan Amerika Serikat pada masa Depresi Besar. Penelitian ini juga memerlukan pendekatan semiotik untuk memahami bagaimana tanda-tanda dalam lukisan ini berfungsi sebagai simbol dari nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, dan ketahanan masyarakat pedesaan.

 

Pendekatan kontekstual melibatkan analisis historis dan sosiologis untuk memahami bagaimana "American Gothic" merefleksikan dan dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada zamannya. Ini melibatkan penelitian arsip, termasuk surat-surat, kritik seni, dan dokumen sejarah lainnya yang dapat memberikan wawasan tentang niat Wood dan penerimaan publik terhadap karyanya. Analisis sosiologis dapat menjelaskan bagaimana lukisan ini berfungsi sebagai kritik sosial atau representasi ideal dari kehidupan pedesaan selama Depresi Besar. Dengan menggabungkan pendekatan ikonografi, semiotik, dan kontekstual, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang "American Gothic" sebagai karya seni yang tidak hanya estetis tetapi juga kaya akan makna sosial dan budaya.

 

Trikomi Tanda Pierce

Pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce, yang terdiri dari tiga kategori tanda yaitu ikon, indeks, dan simbol, dapat diaplikasikan untuk menganalisis "American Gothic" karya Grant Wood. Pertama, ikon dalam lukisan ini merujuk pada elemen-elemen visual yang langsung menyerupai objek nyata. Lukisan ini menampilkan seorang pria dan wanita yang berdiri di depan sebuah rumah bergaya Gothic Revival dengan pitchfork di tangan pria. Ikon ini memungkinkan penonton untuk mengenali dan mengidentifikasi elemen-elemen yang dilukiskan secara langsung, menggambarkan kehidupan pedesaan Amerika pada masa Depresi Besar dengan jelas. Ekspresi serius dan pakaian sederhana dari kedua tokoh menggambarkan kesederhanaan dan ketahanan masyarakat pedesaan.

 

Kedua, indeks dalam "American Gothic" berfungsi sebagai tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat atau keberadaan sesuatu yang tidak langsung terlihat. Misalnya, pitchfork yang dipegang oleh pria tidak hanya merupakan alat pertanian tetapi juga mengindikasikan kerja keras dan ketekunan dalam kehidupan sehari-hari di pedesaan. Rumah bergaya Gothic Revival di latar belakang menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa di pedesaan Amerika, menandakan sejarah imigrasi dan adaptasi budaya. Ketiga, simbol dalam lukisan ini melibatkan elemen-elemen yang maknanya ditentukan oleh konvensi atau interpretasi budaya. Pitchfork bisa dilihat sebagai simbol dari kerja keras dan ketekunan, sementara gaya arsitektur rumah mencerminkan aspirasi dan cita-cita masyarakat pedesaan untuk stabilitas dan kemapanan. Dengan menganalisis ikon, indeks, dan simbol dalam "American Gothic", kita dapat memahami bagaimana lukisan ini mencerminkan nilai-nilai dan dinamika sosial masyarakat pedesaan Amerika pada masa Depresi Besar.

 

Analisis Elemen Visual

"American Gothic" karya Grant Wood menampilkan sejumlah elemen visual yang kaya makna dan menggugah interpretasi mendalam. Pertama, penggunaan warna dalam lukisan ini cukup sederhana dan terbatas pada palet yang tenang, dengan dominasi warna-warna netral seperti coklat, abu-abu, dan hijau. Warna-warna ini mencerminkan kehidupan pedesaan yang sederhana dan keras pada masa Depresi Besar. Kontras antara warna gelap pakaian tokoh pria dan wanita dengan latar belakang rumah putih menciptakan fokus visual yang kuat pada kedua figur sentral. Ekspresi wajah yang serius dan kaku pada kedua tokoh mencerminkan ketahanan dan keteguhan hati masyarakat pedesaan pada masa itu.

 

Kedua, komposisi lukisan ini sangat simetris dan tertata rapi. Pria dan wanita berdiri tegak dengan latar belakang rumah bergaya Gothic Revival yang memiliki jendela berbentuk lengkung khas gaya arsitektur Eropa abad pertengahan. Pitchfork yang dipegang oleh pria menjadi elemen visual yang dominan, melambangkan kerja keras dan kehidupan agraris. Posisi pitchfork yang vertikal sejajar dengan tubuh pria dan garis vertikal pada jendela di belakangnya menciptakan ritme visual yang mengarahkan mata penonton ke bagian-bagian penting dalam lukisan. Garis-garis vertikal ini juga menegaskan kesan kekokohan dan keteguhan, yang beresonansi dengan tema ketahanan dan keteguhan hati masyarakat yang digambarkan. Melalui analisis elemen visual ini, "American Gothic" tidak hanya berfungsi sebagai representasi kehidupan pedesaan, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan keteguhan masyarakat Amerika pada masa yang penuh tantangan.

Interpretasi Makna Lukisan

"American Gothic" karya Grant Wood sering diinterpretasikan sebagai representasi yang kuat dari kehidupan pedesaan Amerika pada masa Depresi Besar. Lukisan ini menggambarkan sebuah potret yang sederhana namun mengandung makna yang mendalam tentang ketahanan, kesederhanaan, dan keteguhan hati masyarakat petani pada masa itu. Wajah serius dan kaku dari kedua tokoh dalam lukisan mencerminkan kemantapan karakter dan kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisional. Rumah bergaya Gothic Revival di latar belakang menunjukkan aspirasi dan kebanggaan akan identitas Amerika serta pengaruh arsitektur Eropa di pedesaan Amerika. Pitchfork yang dipegang oleh pria menjadi simbol kuat dari kerja keras dan ketahanan, sementara ekspresi wajah yang tegas dari kedua tokoh menegaskan keberanian dan kemandirian dalam menghadapi tantangan hidup.

 

Namun, di balik kesan kesederhanaan dan kekokohan yang disampaikan oleh lukisan ini, "American Gothic" juga dapat diinterpretasikan sebagai kritik terhadap tekanan sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat pedesaan Amerika pada masa itu. Ekspresi wajah yang kaku dan serius dari kedua tokoh bisa juga mencerminkan ketegangan dan kekhawatiran akan masa depan yang tidak pasti. Pitchfork yang dipegang oleh pria bisa juga diartikan sebagai alat pertanian yang berat dan melelahkan, menggambarkan beban yang harus dipikul oleh masyarakat petani dalam menghadapi masa-masa sulit. Dengan demikian, "American Gothic" tidak hanya menjadi potret kehidupan pedesaan Amerika pada masa Depresi Besar, tetapi juga menggambarkan kekuatan, ketahanan, dan tekanan yang dialami oleh masyarakat petani Amerika dalam menghadapi tantangan hidup.

 

Kesimpulan

Seni lukis memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan-pesan sosial, politik, dan budaya. Karya seni lukis mencerminkan dinamika sosial pada masa penciptaannya dan berfungsi sebagai cerminan masyarakatnya. Contoh klasiknya adalah "American Gothic" karya Grant Wood yang mencerminkan kehidupan pedesaan Amerika Serikat saat Depresi Besar, lukisan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk opini publik dan memicu perubahan sosial. Kemampuan seni lukis untuk mengubah persepsi dan memberikan dampak jangka panjang pada masyarakat memperkuat perannya dalam merefleksikan dan membentuk dunia di sekitar kita.

 

Senin, 18 Maret 2024

MAHASISWA BIASA

 

KAJIAN TEKNIK FOTOGRAFI DALAM EKSPLORASI BUDAYA BARU DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

 

ABSTRAK

            Perkembangan kamera dalam era digital telah memungkinkan masyarakat untuk mengeksplorasi seni fotografi lebih dalam. Fotografi bukan sekadar hobi, melainkan juga menjadi medium ekspresi yang mendalam. Era digital menghilangkan hambatan dalam proses fotografi dengan mengeliminasi kebutuhan akan pemrosesan film dan pencetakan foto, memungkinkan fotografer untuk fokus pada esensi pengambilan gambar. Namun, pemahaman teknik eksposure tetap penting untuk memaksimalkan potensi kreatif dalam fotografi. Fotografi telah berkembang dari alat bantu melukis menjadi bentuk seni yang mandiri dan kuat, memungkinkan dokumentasi seni pertunjukan dengan keindahan dan keakuratan yang luar biasa. Fotografi juga memainkan peran penting dalam industri iklan cetak, di mana pengajaran fotografi menjadi wajib di Perguruan Tinggi dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Meskipun demikian, fungsi dan makna dalam karya fotografi tetap menjadi landasan utama dalam mendukung keberhasilan desain komunikasi visual.

 

Topik 1 : Pengenalan Teknik Dasar

Literture Review Jurnal 1

Penulis  : Agnes Paulina Gunawan

Judul  : PENGENALAN TEKNIK DASAR FOTOGRAFI

Halaman  : 1-10

 

Teori :

Perkembangan teknologi dan ide yang terjadi dalam bidang fotografi sangat berpengaruh terhadap karakteristik dan hasil karya fotografi di jaman sekarang. Hal itu terlihat baik dalam segi perkembangan mekanisme kamera, dari yang manual sampai digital, maupun dari segi program atau perangkat lunak yang makin berkembang untuk mengolah hasil fotografi. Namun, seiring dengan perkembangan dan perubahan teknologi tersebut, pengetahuan mengenai teknik dasar fotografi hingga saat ini masih sama dan masih bisa diaplikasikan ke semua jenis kamera yang ada di pasaran. Sehingga tidak ada salahnya untuk mempelajari teori atau teknik fotografi, sebab prinsip kerja dari semua kamera di pasaran masih berdasar dengan teori dan prinsip dasar yang sama.

Berbeda dengan beberapa aliran seni yang membutuhkan bakat atau waktu untuk latihan keterampilan yang memadai untuk menghasilkan sebuah karya, dalam fotografi semua orang pasti bisa langsung memotret asal memiliki kamera, terutama dengan kecanggihan peralatan digital yang langsung bisa menampilkan hasil fotografi dengan sangat cepat. Dengan segala kondisi inilah, seseorang sebaiknya menguasai teknik dasar fotografi agar bisa menjadi fotografer yang mampu menghasilkan foto yang baik dan berkualitas dengan keterampilan profesional. Dengan tujuan menghasilkan hasil karya fotografi yang pasti bagus dan berkualitas bukan dengan sistem coba-coba sampai berhasil mendapatkan hasil sesuai keinginan saja.

Sebab dengan segala kemudahan di era digital ini, banyak orang bisa memotret dengan sistem untung-untungan. Dengan tampilan hasil foto yang langsung dapat dilihat hasilnya, bila foto tersebut belum bagus atau belum sesuai dengan keinginan si fotografer maka bisa langsung dihapus. Bila hasilnya masih belum memuaskan, tinggal dihapus lagi dan memotret berulang sampai hasil yang diinginkan didapatkan. Sehingga banyak didapati fotografer yang ternyata tidak menguasai teori dan teknik fotografi namun bisa menghasilkan karya-karya yang bisa jadi menarik dan memiliki nilai seni.

Namun sangat disayangkan bila waktu dan memori kamera yang digunakan terbuang lebih banyak karena proses untung-untungan tersebut. Jurnal ini membahas teknik-teknik dasar pemahaman proses fotografi. Sehingga dengan menguasai teknik dasar tersebut, fotografer sudah bisa memperkirakan hasil karya yang diinginkan dengan menyesuaikan kondisi yang diamati langsung oleh indera penglihatannya.

 

Metode :

Penulisan ini disusun sebagai hasil dari penelitian kualitatif dengan pendekatan melalui metode studi literatur berdasarkan pengumpulan data melalui buku-buku mengenai teknik dasar dalam fotografi dan sumber dari Internet mengenai teori-teori dasar fotografi yang berkaitan dengan materi pembahasan. Ditambah lagi dari hasil praktik dalam mata kuliah fotografi, dan tanya jawab mengenai permasalahan umum yang paling sering dibahas oleh mahasiswa saat pemotretan dengan berbagai kondisi saat praktik di awal perkuliahan.

 

Hasil :

Dalam bidang fotografi ada tiga hal penting yang harus selalu ada untuk mendapatkan suatu karya foto, yaitu media rekam, media penyimpan, dan cahaya. Media rekam di sini adalah kamera, media rekamnya adalah film, atau sekarang lebih banyak yang memakai memory card. Akan teapi, aspek yang terpenting dalam fotografi adalah cahaya. Bila tidak ada cahaya, karya fotografi tidak akan terbentuk. Sesedikit apapun keberadaan cahaya dalam proses pembuatan karya fotografi pasti bisa menghasilkan karya fotografi. Jika tidak ada cahaya sama sekali walaupun seseorang memiliki media rekam dan media penyimpanan, tidak akan bisa menghasilkan suatu karya foto. Sama seperti apabila seseorang berada di ruangan yang gelap gulita, walaupun ruangan itu tertata dengan interior yang bagus tetap tidak akan terlihat bila tidak ada cahaya sama sekali.

Bagaimana seorang fotografer bisa menentukan seberapa banyak cahaya yang dibutuhkan dalam suatu proses pemotretan, atau bagaimana dapat memotret dengan kondisi pencahayaan yang seadanya sehingga bisa menghasilkan karya foto dengan pencahayaan yang sesuai. Jurnal ini akan membahas tentang teknik dasar fotografi yang berkaitan dengan fitur-fitur penting yang biasanya selalu terdapat dalam sebuah kamera, yaitu diafragma (bukaan lensa), shutter speed (kecepatan tirai rana), dan pengaturan ISO (kepekaan sebuah film)

 

Topik 2 : Pengenalan Teknik Dasar

Literture Review Jurnal 2

Penulis  : Prayanto Widyo Harsanto, FSR Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Judul  : FOTOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (DKV)

Halaman  : 1-9

 

Teori :

Pada awalnya iklan cetak lebih banyak atau didominasi oleh tulisan dibanding gambar/foto. Namun karena tuntutan pasar, kompetisi, dan perkembangan zaman maka iklan cetak sebagai komunikasi visual mengharuskan untuk tampil memikat. Sekarang foto pada iklan cetak tidak lagi sekadar pendukung teks saja, tetapi menjadi kekuatan dan daya tarik pada suatu iklan.

Penemuan teknik fotografi oleh Niepce dan Daguerre pada tahun 1839 menjadi penanda bahwa alat ini sangat memungkinkan untuk menggantikan teknik-teknik ilustrasi yang sebelumnya digunakan dalam iklan cetak. Setelah fotografi mulai populer dalam masyarakat dan didukung dengan perkembangan teknologi grafika, maka unsur gambar dengan teknik fotografi banyak digunakan untuk ilustrasi iklan cetak, bahkan mulai menggeser peran gambar tangan sebagai elemen visual dalam iklan.

Menurut sumber Direktorat Akademik, Dirjen Dikti tahun 2008/2009, Perguruan Tinggi di Indonesia yang memiliki program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk program S-1 ada sebanyak 45 prodi, belum termasuk untuk jenjang D-1 dan D-3. Hingga saat ini (tahun 2017) dapat diperkirakan bahwa program S-1 DKV sudah lebih dari 50-an program studi di Indonesia. Jika dicermati pendidikan DKV tidak hanya ada di Peguruan tinggi saja, saat ini DKV juga ada dan berkembang pada tingkat/level sekolah menengah, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mengalami perkembangan sangat cepat.

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pentingnya mata kuliah Fotografi di Perguruan Tinggi yang dimiliki prodi DKV di Indonesia saat ini. Di samping itu, tulisan ini juga ingin menjawab pertanyaan bagaimana pendidikan DKV dapat memberikan berkontribusi pada industri DKV sekaligus turut memelihara profesi terkait DKV dalam suatu sinergi yang produktif.

 

Metode :

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif melalui kegiatan observasi, wawancara, dan studi literature untuk mendapatkan data pendukung serta mencari kerangka teori guna menguatkan hasil penulisan. Dari data dan kerangka teori yang diperoleh dilakukan analisis dengan membaca kondisi nyata di lapangan.

Kajian ini didasari atas respon penulis selaku dosen DKV dan sekaligus asesor BAN-PT sejak 2006 dalam melihat fenomena yang ada di lapangan dan membaca secara langsung terjadinya perubahan mengenai cara pandang/paradigma di dalam pengajaran dan kurikulum yang diterapkan di program studi DKV khususnya untuk mata kuliah Fotografi.

 

Hasil :

Pasca tahun 1990-an DKV mulai memasuki era teknologi digital yang merubah budaya kerja di industri ini. Dari ketergantungan dengan kemampuan skill manual manusia berubah menjadi serba komputerisasi. Semua keahlian tersebut dapat digantikan oleh piranti lunak dan piranti keras komputer. Hal ini merupakan salah satu yang merubah paradigma Perguruan Tinggi DKV lebih berkembang ke arah digitalisasi.

Di Indonesia saat ini Perguruan Tinggi DKV juga lebih menitikberatkan pada penguasaan aplikasi komputer grafis. Pertumbuhan pendidikan DKV yang pesat juga tidak lepas dari perkembangan teknologi dan media informasi. Fenomena ini membuka peluang tumbuhnya profesi-profesi baru terkait dengan DKV yang pada akhirnya meningkatkan permintaan akan jasa pendidikan DKV. DKV sebagai “seni komunikasi” secara visual pada dasarnya lebih dekat dengan bidang seni rupa, meskipun demikian secara profesi DKV merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu/keahlian yang digunakan untuk menjawab kebutuhan komunikasi dan informasi, baik komersial dan non komersial. Salah satu bidang keahlian DKV yang perlu dipelajari adalah fotografi. Pengetahuan dan keterampilan fotografi sangat penting dan sangat berguna sebagai bekal mahasiswa DKV yang dapat diterapkan saat masih menempuh kuliah maupun setelah selesai studi/lulus.    

Pengetahuan dan keterampilan fotografi yang diajarkan di S-1, yang notabenenya akademis, sebaiknya tidak sekadar bagaimana dapat mengoperasikan peralatan kamera dan menggunakan peralatan yang lain (how to), akan tetapi juga sangat penting meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya konseptual dan riset terkait kegiatan fotografi. Artinya bahwa fotografi adalah pekerjaan ilmiah (akademis), karena membuat foto tidak hanya sekadar teknis melainkan mencari suatu pemecahan atas persoalan yang harus dapat diatasi dan diuraikan secara sistematis. Oleh karena itu, sebelum melakukan pemotretan fotografer perlu terlebih dulu melakukan penelitian/riset tentang objek atau subjek yang akan dibuat agar fotonya tersaji dengan baik dan mampu menjawab permasalahannya. Komposisi mata kuliah fotografi di DKV untuk S1 yang memiliki beban 5-8 sks dari keseluruhan 144- 148 sks harus dimanfaatkan secara maksimal untuk bekal mahasiswa.

Di era kamera digital, masyarakat memandang fotografi sebagai sesuatu yang mudah, murah, dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan inilah era digital photography (digitalisasi fotografi). Meskipun peralatan fotografi saat ini sangat canggih namun masih tetap diperlukan seseorang yang memiliki kemampuan teknis dengan kepekaan estetis yang baik sebagai ‘man behind the camera’ dalam menciptakan fotografi. Artinya keterampilan dan pengetahuan seni rupa seperti menggambar, nirmana, kritik/tinjauan seni, sejarah sangat penting sebagai landasan mengasah kepekaan dan konseptual dalam menciptakan karya foto

 

Topik 3 : Pengenalan Teknik Dasar

Literture Review Jurnal 3

Penulis  : Malik Fathurrohman

Judul  : SENI FOTOGRAFI SEBAGAI EKSPRESI BARU BUDAYA

Halaman  : 1-7

 

Teori :

Pada pertama kali penemuannya, fotografi lebih banyak digunakan sebagai alat untuk membantu melukis karena dengan kemampuan reproduksi imaji dan presisi yang tinggi menjadikan para pelukis tertarik untuk menggunakannya. Pro dan kontra secara terus menerus muncul dalam perkembangan fotografi di dunia seni visual. Sebagai media yang dapat terbilang baru, saat itu kehadiran fotografi di dunia ini dianggap bisa mengakhiri masa kejayaan seni lukis yang sudah terlebih dahulu muncul.

Sebagai seni visual, fotografi berkembang melalui banyaknya dorongan para penggunanya yang menggunakan medium fotografi dengan kesadaran yang melampaui akan fungsi reproduksi fotografi semata. Fotografi terus berk kembang dengan keunikan dan kekhasannya.  Fotografi mengo laborasikan berbagai aspek pendukung dalam penciptaannya. Mekanikal kamera, kemampuan teknis penggunaan kamera, dan kemampuan mengolah ide, semuanya merupakan bagian dari komposisi kreativi tas dalam penciptaan karya fotografi.

Dalam dunia fotografi ada istilah fotografer, yaitu orang yang melakukan eksekusi dalam komposisi mekanis agar cahaya dapat terekam secara baik dalam media kamera. Fotografer harus mampu menampilkan daya tarik, atau mengelola objek visual biasa hingga tampil dengan daya tarik khusus (ekspresi, suasana atau susunan artistik). Selanjutnya, fotografer harus mampu menempatkan objek pusat pandang. Hal ini mencakup bagaimana memilih objek, apakah objek yang dipilih cukup menarik, unik, dan apakah objek tampil dengan daya tarik yang istimewa, ekspresif atau sekadar rekaman ilustrasi atau dokumentasi.


Metode :

Teknik Seleksi DataProses seleksi data diperlukan agar lebih fokus pada pokok permasalahan serta nantinya penelitian dapat berjalan dengan  lebih  efektif  dan  efisien.  Data yang berhasil dikumpulkan selanjutnya akan  diseleksi  berdasarkan  materi pembahasan sehingga didapatkan hasil penelitian  yang  optimal.  Reduksi  data dilakukan berdasarkan relevansi kajian karya  foto  Sebastiao  Salgado  dengan aspek-aspek yang melingkupinya.

Teknik  Sampling Banyaknya populasi dalam peneliti-an  ini  menyulitkan  identifikasi  untuk menentukan  jumlah  sampel.  Hal  ini menjadi  dasar  pertimbangan  untuk menggunakan  teknik  testing Comfort Inspecting.

 

Hasil :

Seni adalah ekspresi dari pengalaman-pengalaman yang terpilih dari serangkaian peristiwa, dari simbol gerakan ritmis hingga gambar realis dan abstrak. Fotografi awalnya hanya sebagai dokumentasi, namun kini mampu mengekspresikan visual artistik para pelaku seni pertunjukan dan memberi nilai tambah pada kebudayaan melalui realisme fotonya. Fotografi menjadi media yang cepat dan dinamis dalam mengekspresikan luapan emosi seni, menjawab tantangan kebudayaan yang progresif. Dalam perkembangan teknologi saat ini, seni yang mengikuti kemajuan zamannya adalah seni yang terbuka terhadap perkembangan teknologi. Fotografi memungkinkan dokumentasi dinamika kebudayaan dengan tepat tanpa kehilangan realitas, membuat momen tersebut abadi dalam waktu.

 

Daftar Pustaka

Agnes, Paulina Gunawan. (2010). pengenalan Teknik Dasar Fotografi. Palmerah. Jakarta Barat.

Malik, Fathurrahman. (2009). Seni Fotografi Sebagai Ekspresi Baru Budaya. Cibiru, Universitas Pendidikan Indonesia.

Prayanto, Widya Harsanto. (2017). Fotografi  Dalam Desain Komunikasi Visual. FSR Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

 

Selasa, 05 Maret 2024

MAHASISWA BIASA

AYO KENALAN

Hello,
Ini adalah pertamakali saya menulis pada platform digital, maka daritu saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu agar kita bisa mengenal lebih dalam.

Perkenalkan Nama saya Rai Ahmad Bayhaqi, bisa panggil saya AI karna mayoritas orang-orang di dekat saya memanggil dengan nama itu kepada saya. Saya lahir di jakarta pada bulan Oktober 2004, bisa dibilang keluarga besar saya murni suku betawi.

Saya mengikuti perkuliahan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) sejak tahun 2022. Seperti pada umumnya, saya lulus tepat waktu yaitu 12 tahun pada masa pendidikan tanpa halangan. Saya lulus dari Pondok Pesantren Modern Daar el-Qolam 3 balaraja Tanggerang pada bulan Maret 2022. Begitu banyak penyesalan yang saya rasakan, karna saya harus meninggalkan fokus ilmu agama dan banyak sekali ilmu agama yang tidak bisa saya amalkan untuk orang banyak, karna saya memilih jurusan umum bukan agama, Tapi saya yakin ini adalah jalan terbaik yang tuhan kasih kepada saya. 

Pada tahun 2023 saya mulai menyukai mata kuliah fotografi dan saya mulai mendalami fotografi hingga saat ini, saya menggambil kursus basic fotografi, intermedia fotografi hingga digital imaging di Rul Studio milik pak Fahrul Azhar, S.sn. M.Ds di daerah Dipo KRL Depok. foto demi foto saya ambil karna saya ingin sekali memiliki fendor sendiri dan ingin membagi ilmu saya kepada oarang-orang yang ingin mendalami ilmu fotografi. Saya juga memiliki tokoh favorit dalam fotografi yaitu bapak Andreas Darwis Triadi, sebuah impian dan kebanggan jika suatu saat bisa bertemu dan diajari ilmu dengan beliau, sedikit informasi kalau bapak Andreas Darwis Triadi adalah salah satu tokoh fotografi indonesia yang sudah mendunia, beliau juga masuk 10 besar fotografer terkenal di indonesia, dan yang bikin saya percaya bisa seperti beliau adalah ulang tahunnya sama seperti saya tanggal dan bulannyapun sama hehehe.

Kita lanjut ya, sebelum saya masuk di Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) ada 2 universitas yang saya inginkan yaitu ISI Jogja dan ISI Denpasar. Begitu banyak cara yang saya dan usaha yang saya coba tapi qodarullah tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan dan akhirnya saya mencoba untuk mencari perkulihan swasta, dan alhamdulillah saya memilih Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) untuk menempuh pendidikan berikutnya.

Sejujurnya agak berat buat saya menjalani di jurusan DKV, karna saya tidak pernah mempelajari hal-hal yang berbau digital, seperti photoshop, lightroom, dll. Tapi saya yakin akan bisa melewati jurusan ini dan lulus dengan nilai yang baik. Di DKV banyak hal-hal baru yang saya temukan, ilmu-ilmu baru dahkan karya-karya hebat yang saya temukan, buat saya pribadi saya sangat menyukai cara belajar yang banyak praktek dan sedikit teori, mungkin mayoritas mahasiswa gitu kali ya, tapi jujur yang saya tau dari dosen saya dan apa yang rasakan di Unindra itu sekarang kebanyakan teori dosen hanya menugaskan tanpa memberikan cara mengerjakan, ini kata dosen saya ya dan apa yang saya rasakan, tapi gapapa mungkin kedepannya kita bisa mendapat pembelajaran yang lebih maksimal lagi.

 

Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Lagu Hati-Hati Di jalan Karya Tulus

  Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Lagu Hati-Hati Di jalan Karya Tulus Pendahuluan Berikut adalah tautan pembahasan mengenai Pen...